Jembatan Keliran Hampir Rampung, Jalur Tabang Tersambung

Kutai Kartanegara Kalimantan Timur

Jembatan Keliran Hampir Rampung, Jalur Tabang Tersambung

November 15, 2019 Uncategorized 0

Sabtu, 14 September 2019 23:21

Jembatan Keliran Hampir Rampung, Jalur Tabang Tersambung

BISA DILALUI: Salah satu sisi Jembatan Keliran ada tiang pembatas yang membuat lecet kendaraan ketika melintas.

PROKAL.CO, TENGGARONG-Menjelang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kabupaten Kukar di Kecamatan Tabang akhir September, percepatan pembangunan infrastruktur dilakukan. Dua Jembatan Keliran di Kecamatan Kenohan yang ambruk pada 2017, kini bisa difungsikan.

Pembangunan dua jembatan itu sempat terhambat lantaran APBD Kukar mengalami defisit anggaran. Namun, tahun ini dua jembatan yang menghubungkan jalur darat Kecamatan Tabang menuju Kecamatan Kenohan dipacu agar segera selesai. Terlebih jembatan itu menjadi akses vital untuk dilintasi para kafilah MTQ dari sejumlah kecamatan. “Sejak awal September sudah bisa dilintasi, jalur darat menuju Tabang sudah bisa,” ujar Camat Kenohan Lukman Budiono. Diketahui, jembatan penghubung jalur poros di Desa Tuana Tuha, Kecamatan Kenohan, ambruk pada April 2017. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 06.00 Wita itu diduga akibat derasnya arus sungai, sehingga menerjang jembatan. Meski tak ada korban jiwa, jembatan dianggap sangat vital lantaran jadi jalur penghubung utama menuju Kecamatan Tabang, Kenohan, dan Kembang Janggut. Warga harus mengeluarkan biaya Rp 50 ribu untuk sekali melintas di jalur tersebut. Khusus melintasi jembatan alternatif yang dibuat warga. Pungutan ditarik warga untuk perawatan jalan alternatif pengganti jembatan yang ambruk. Hanya, kata Lukman, tidak semua jenis kendaraan bisa melintas di jembatan tersebut. Kendaraan besar masih dibatasi melintas di jembatan tersebut. “Semoga masyarakat semakin mudah melintas. Tidak lagi dibebani biaya,” imbuhnya. Selain kabar gembira tersebut, kritik datang dari sejumlah warga. Pasalnya, di tengah jembatan ada dua tiang membatasi kendaraan yang melintas. Jadi, mobil berbadan lebar dengan kaca spion yang tidak bisa ditutup, harus menabrak tiang itu. Pihak Dinas Pekerjaan Umum (PU) diminta tidak memasang tiang ulin pembatas di tengah jembatan. “Kalau memang berat atau tonasenya dibatasi, mestinya bukan di tengahnya diberi tiang seperti ini. Sudah banyak yang jadi korban. Mobil akhirnya lecet karena terpaksa harus lewat,” ujar pria asal Tabang tersebut. (qi/dra2/k16)

(Visited 21 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *